Saturday, February 28, 2015

SUCI, Jogja dan Cinta Beda Agama


Kemarin malam, Amri anak yang alaynya natural itu, ngirim foto comica SUCI yang akan manggung di Makassar tanggal 1 Maret nanti. Ajakin nonton, tapi fotonya aja yang dikirim. Tiketnya engga. Sudah pasti saya ga bisa datanglah. Saya lagi ga punya uang. Beli batu cincin saja susah~
 Sudah dua kali saya melewatkan SUCI secara live. Hiks. Harga tiketnya ga mahal sih kalau saya punya uang. Tapi nonton di tv sudah cukuplah. 

-------

Oiya kemarin siang, temanku Nabila datang mengadakan kunjungan. Akhirnya setelah berminggu-minggu, dia muncul ke permukaan juga. Kita ngobrol panjang lebar tapi bukan gosip kok. Lebih ke arah kehidupannya di kampus, cerita geng motor, penjambretan dan SBMPTNku. Trus liburan tahun baru ini, dia ke Jogja. Ciee ga bilang-bilang karena takut saya nitip oleh-oleh. Tapi ternyata, saya dibawakan baju kaos yang kembar sama dia. Mayan, nambah baju rumah. Saya jarang dibelikan baju rumah soalnya. Karena baju rumah yang ku beli kelas 1 SMP, masih muat masa. Jadi ragu dengan pertumbuhanku nih. 

--------

Dulu, saya sempat heran dengan orang yang punya pacar beda agama. Maksudku kalau sudah tau beda agama, ya jangan diterusin lah. Ternyata eh ternyata, ngomong gampang ya. Karena saya lagi tertarik dengan pria beda agama. Dari awal saya sudah tau kalau dia Kristen, tau darimana? Dari namanya dong dan informasi dari umiku. Dia itu teman ayahku, tapi bukan om-om kok. Sungguh. Masih 20an. Meski sempat bingung saya harus manggilnya om, pak, kak atau sayang. Soalnya ayahku manggil dia 'pak'. Kalau ikutan manggil pak, kasian masih muda gitu. Kalo om, hmm geli juga. Jadi kak saja deh~
Nah, dia ini sering datang menemui ayahku. Seminggu ada dua kali, biasa urusan bisnis. Karena saya satu-satunya anak yang lebih dominan di rumah, saya sering mempersilahkan menunggu. 

Temannya ayahku : Bapaknya ada? (Awal-awal dulu, ga pernah senyum. Mukanya serius banget. Jadi pingin gelitikin. Tapi karena saya sering senyumin dan sering datang. Akhirnya senyum juga)

Saya : Oh, ada kak. Tunggu saya panggilkan ki (kalau lagi ada)
atau 
Lagi keluar ki kak. Nanti baliknya siang. Hehe

Dan dia pun menunggu. 
Lalalala~

Awalnya gitu aja. Dia datang-ku persilahkan menunggu-Dia datang- ku persilahkan menunggu. Begitu. Ada suatu momen dimana ayahku lagi keluar sebentar dan ku suruh menunggu seperti biasa. Tiba-tiba dia lihat buku bahasa Jepangku di atas meja dan mulai nanya-nanya. Eh ternyata, orangnya baik, enak diajak ngobrol dan good looking juga. Begitulah. Bagaimana sebuah perasaan bisa datang dengan cara sesederhana itu. Saya juga mulai hafal waktu-waktu dia datang. Jam 11, biasanya hari Selasa dan Kamis. Dan berpikir 'bagusnya nanya apa ya kalau ketemu?'

Atau mungkin, saya jarang ngobrol dengan orang baru juga. Tapi penjual pulsa dan penjual donat juga sering ku ajak ngobrol. Mereka orang baru. Dan saya ga tertarik kecuali sama jualannya. Apa karena mereka perempuan ya?

Saya berharap ini hanya perasan suka yang bakalan lewat. Kalau jatuh cinta betulan mah, mampus. 


(Sumber gambar: Twitter SUCI Makassar dan We Heart It)

1 comment:

  1. Tentang baju, aku juga ngalamin hal yang sama. Ini badan gak tumbuh-tumbuh atau bajunya yang ikutan dewasa ya?xD

    Wawawa.. mesti hat-hati itu, karena suka dan cinta itu sulit dicari bedanya. mesti sering-sering nanyain otak kalo perkara hati.

    ReplyDelete